Minggu, 13 Mei 2012

Klasifikasi Kuda


KLASIFIKASI KUDA
Kuda termasuk golongan hewan dalam filum Chordata yaitu hewan yang bertulang belakang, kelas Mamalia yaitu hewan yang menyusui anaknya, ordo Perissodactyla yaitu hewan berteracak tak-memamah biak, famili Equidae, dan spesies Equus caballus. Keledai yang digunakan untuk persilangan dengan kuda sejati hingga dihasilkan bagal (mule) merupakan spesies lain yaitu Equus asinus (Soehardjono, 1990).
Seperti diduga, bahwa pada mula pertama, kuda dimanfaatkan bukan sebagai hewan beban atau hewan kesenangan. Suatu kawasan di Perancis bagian Selatan yang digali oleh para petugas arkeologi telah menemukan tulang-tulang dan memperkirakan adanya 100.000 ekor kuda yang terbenam di situ. Ini menimbulkan dugaan bahwa manusia primitif pada waktu dulu telah memburu dan memanfaatkan kuda sebagai sumber bahan makanan manusia. Periode selanjutnya, kuda itu diperah dan sampai saat inipun hal itu masih dilakukan di beberapa bagian dunia. Kuda dapat menghasilkan susu 15 sampai 20 liter sehari. Di beberapa bagian dunia, susu kuda masih dihargai dan lebih disukai daripada susu sapi.
Pendapat yang dikemukakan oleh Darwin (1859), bahwa kuda merupakan sebagai bukti fosil terpenting teori evolusi tentang asal muasal kuda, dewasa ini dianggap sebagai suatu teori ilmiah yang lebih kearah unsur keyakinan dan spekulasi para ahli serta mitos belaka. Satu-satunya teori lain tentang asal muasal yang secara logis berkaitan dengan hukum-hukum ilmu pengetahuan, fenomena alam dan catatan-catatan geologis adalah konsep tentang ciptaan khusus. Teori ini menyatakan bahwa semua bentuk kehidupan itu diciptakan oleh Tuhan dan dirancang untuk berkembangbiak sesuai atau menurut jenisnya. Apabila dua ekor hewan dapat kawin dan menghasilkan keturunan, maka kedua hewan itu tentunya adalah dari jenis yang sama. Begitupun halnya dengan kuda, Equs caballus adalah sejenis hewan yang berasal dari species tersendiri pada zamannya. Boyce Rensberger (1980), dalam seorang evolusionis yang memberikan sambutan, mengatakan bahwa skenario evolusi kuda tidak didukung oleh catatan fosil dan tidak ditemukan proses evolusi yang menjelaskan evolusi kuda secara bertahap. Seorang evolusionis yang juga penulis ilmu alam, Gordon R. Taylor, menjelaskan kenyataan yang jarang diakui ini dalam bukunya “The Great Evolution Mystery”, kelemahan paling serius dari Darwinisme adalah kegagalan para ahli paleontologi menemukan filogeni atau silsilah organisme yang meyakinkan untuk menunjukkan perubahan evolusi besar

Romeo & Juliet


 “ROMEO & JULIET”


romeoandjuliet.png          In the town of Verona lived two families, the Capulets and the Montagues, engaged in a bitter feud. Among the Montagues was Romeo, a hot-blooded lad with an eye for the ladies
     One day, Romeo was recounting for his friends his love for Rosaline, a haughty beauty from a well-to-do family. Romeo's friends chided him for his "love of love" but agreed to a plan to attend the feast of the Capulets', a costume party where Rosaline was expected to make an appearance. The disguises would provide Romeo and his friends a bit of sport and the opportunity to gaze undetected upon the fair Rosaline. Once there, however, Romeo's eyes fell upon Juliet, and he thought of Rosaline no more.
     Asking around to learn the identity of Juliet, Romeo's voice is recognized by Tybalt, a member of the Capulet clan. Tybalt calls for his sword, but the elder Capulet intervenes, insisting that no blood be shed in his home. So Romeo is tolerated long enough to find an opportunity to speak to Juliet alone, still unaware of her identity.
     He begs for an opportunity to kiss her hand. She relents. He presses his case, desiring her lips. She has no breath to stop him. Interrupted by the girl's nurse, Romeo learns the name of his heart's desire: Juliet Capulet.
     The vision of Juliet now invades his every thought. Unable to sleep, Romeo returns late that night to the bedroom window of his love, hiding in the bushes below. There, he is surprised to find Juliet on the balcony, professing her love for him and wishing that he were not a Montague.
O Romeo, Romeo! Wherefore art thou Romeo?
Deny thy father and refuse thy name. . .
What's a Montague? It is nor hand, nor foot,
Nor arm, nor face, nor any other part
Belonging to a man. O, be some other name!
What's in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet. .
     Romeo appears from the bushes, ready to deny his name and profess his love. The two agree to meet at nine o-clock the next morning to be married.
     Early the next morning, Romeo appears at the cell of Friar Lawrence begging the friar to marry him to Juliet. Friar Lawrence does not take Romeo seriously at first, but he is soon impressed with Romeo's sincerity. The Friar agrees to perform the ceremony, praying that the union might someday put an end to the feud between the two households. Still, he advises Romeo keep the marriage a secret for a time. Romeo and Juliet are married.
     On the way home, Romeo chances upon his friend Mercutio arguing with Tybalt in the public square. Spying Romeo, Tybalt tries to taunt him into a fight. Romeo has no desire to harm the kinsman of his new wife. Mercutio is stunned and embarrassed by Romeo's soft words and draws his sword. Romeo tries to restrain his friend, but Tybalt thrusts his sword underneath Romeo's arm, stabbing Mercutio. Tybalt then flees with his friends. The wound is worse than at first suspected. "Ask for me tomorrow," says Mercutio, "and you shall find me a grave man." He dies.
     Tybalt returns still cursing the unexpectedly reluctant Romeo. But Romeo is reluctant no longer, drawing his sword and slaying Tybalt. The moment Tybalt falls, Romeo realizes he has made a terrible mistake: "O, I am fortune's fool!"
     Desperate, Romeo rushes to Friar Lawrence who advises him to travel to Mantua until things cool down. He promises to inform Juliet.
     Juliet receives the news of Tybalt's death and Romeo's exile. She dares not mention her marriage to her father now. Then, she receives more bad news. Her father has decided it is time for her to marry. He has selected a suitor: Paris, a kinsman of Mercutio.
     Juliet, too, rushes to Friar Lawrence for counsel. The good Friar launches an elaborate plot. Juliet should agree to marry Paris. She will then take a sleeping potion, which will simulate death for three days. Her body will be placed in a tomb while she is mourned, and the Friar will send word to Romeo. Romeo will arrive in time to rescue her. The celebration over her return to life will provide an opportunity to explain about the marriage and the circumstances surrounding Tybalt's death.
     The plot proceeds according to plan, and the wedding preparations for Paris and Juliet give way to solemn funeral arrangements. But the Friar's letter to Romeo fails to reach him before he hears of Juliet's death. Romeo obtains a poison from an apothecary and travels to Verona.
     Under the cover of darkness, he breaks into Juliet's tomb. They are alone for only a moment. Paris, who also had come to mourn Juliet, interrupts, and believing Romeo to be a grave robber, draws his sword. The two men fight, and Paris is killed. Dying, Paris asks that his body be placed next to Juliet's. Only now recognizing Paris, the guilt stricken Romeo obliges.
Then Romeo kisses the lips of his Juliet one last time.
Eyes, look your last.
Arms, take your last embrace.
And, lips, O you the doors of breath,
Seal with a righteous kiss
A dateless bargain to engrossing death
Romeo thanks the apothecary for his skill and drinks the poison.
     The effects of the sleeping potion wear off, and Juliet awakens calling for Romeo. Finding him next to her, dead, with a cup in his hand, she guesses what has transpired. She tries to kiss the poison from his lips, but failing that, unsheathes his dagger and plunges it into her breast.
     Friar Lawrence learns that Romeo has not received his letter and rushes to Juliet's tomb to rescue her. He discovers the tomb already open and finds the sad contents within. Soon the Friar is joined by the Night Watchman, who had been alerted to the disturbance. Then the families gather around the star-crossed lovers. The Friar's mournful account of their death shames the two families into ending their feud forever.

Cerpen

Dia .... ku lihat dia ....
slalu menutup mata
dia adalah malam
aku dan dia .....

dia menutup mata ...
dia terus berjalan ...
dia tak hiraukan ...
aku dan dia ...

terbanglah bersamaku ...
manusia sempurna untukku ...

Alunan lagu "manusia sempurna" yang dinyanyikan oleh suara bening Giring Nidji terdengar pelan dari kamar tetangga sebelah apartemen ku. Tuhan mungkin tidak pernah menciptakan seseorang yang sempurna, dan jika Ia menciptakan satu, sudah tentu Ia akan segera mengambil seseorang ( yang sempurna itu ) kembali.
Tidak ku sangka, lagu itu membuat  kedua mata ku basah dan perih, entah lagu itu atau memang perasaan ku yang terlalu sedih, siapa dan apa yang harus disalahkan?aku tidak tau.Sudah tujuh puluh dua jam dua puluh dua menit aku mengisolasi diri dalam kamar ini, hanya suara lagu sendu inilah yang ku dengar, aku tuli, bisu, dan buta dari panggilan mama, papa, telepon, teman - temanku, semuanya. Aku juga merasa tidak memandang apapun, siang atau malam, indah atau buruk rupa, hanya ada wajah "manusia sempurna" itu dalam retina ku, aku pun tidak mengucapkan satu kata pun, aku tidak merasakan apa - apa selain sesak didada ini. Siapapun pasti pernah merasakan kehilangan, ada yang bersikap lebih bijak dari aku tapi ini adalah kehilangan terberat yang pertama bagi ku, dan jika aku di beri pilihan, maka lebih baik jika aku yang meninggalkan dan tidak merasakan bagaimana sakitnya kehilangan.
Berkali - kali aku berteriak - teriak dalam hati dan berharap ini adalah mimpi, aku ingin segera bangun dan tersadar dari sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi, aku memang bukan orang yang tegar. Tapi ini nyata, dia memang telah pergi, dia tidak mengelus rambutku, tidak memelukku, tidak berdiri dhadapan ku dan mengatakan "berhentilah menangis ratu ku", tidak akan pernah lagi..Air mataku semakin deras semakin deras.....deras, deras lagi, deras dan.....
"Firmaaaaaaaaaaannnnn"...., aku berteriak dan aku rasakan gelap dalam pandanganku, sayup - sayup masih ku dengar suara mama dan papa memanggil - manggil namaku, dan aku merasa terbang dari dalam tubuhku yang rapuh dan lemah setelah berhari - hari terpuruk dalam duka yang berkepanjangan.
Aku dan Firman adalah KEABADIAN, begitulahkami menyebut hubungan kami yang memang sangat sempurna bagi kami. Cinta yang seimbang, kebahagiaan yang tidak pernah ada habisnya, kesetiaan, segalanya mungkin hanya sebagai ujian yang diberikan Tuhan. Sembilan tahun lamanya kami bersama dan cinta itu tidak pernah terkikis oleh waktu.
Aku adalah taurus, yang tidak pernah mau kalah dengan orang lain. Dan Firman ditakdirkan sebagai aquarius, dia adalah seseorang yang selalu memberikan nasihat kepada orang lain untuk sabar menghadapi hidup, bijaksana dan selalu menenangkan.Seperti saling melengkapi, semua perbedaan itu sangat indah dan Tuhan memang menciptakan sesuatu yang berbeda sebagai pasangan. Siang yang terang dengan malam yang gelap, malas dengan rajin, kasar dan halus, lelaki dan perempuan, bukan lelaki dan lelaki atau perempuan dan perempuan. Semua berbeda, tapi ditakdirkan berpasangan, seperti aku dan Firman.
"Kamu tau nggak, anak - anak itu selalu bilang kalau Fitri itu naksir kamu...., kemarin aja di sanggar dia terang - terangan bilang kalau kalian sering smsan ", kata ku sambil menangis dan membuat Firman memandang ku dengan khawatir.
"Nggak seperti itu Tia,kamu nggak usah dengerin anak - anak dong...", respon Firman dan menyibakkan rambut - rambut kecil di wajah ku.
"Nggak seperti itu gimana?. Maksud Fitri bilang gitu itu apa? kamu bener sering sms dia?", aku ngotot.
"Sumpah demi Allah aku nggak ada apa - apa sama dia, apa kamu belum yakin juga kalau aku cuma punya kamu?", Firman meyakinkan ku.
"Jawab aja, sering apa nggak?".
"Dia memang sering sms dan tanya - tanya soal jadwal latihan, tapi bukan berarti kalau........".
"Kalau  dia suka sama kamu, kamu suka sama dia?", potongku.
"Dengar, di dunia ini aku cuma kenal satu perempuan yang bisa membuatku mencintainya, nggak ada orang lain dan itu cuma Dewi Setiani, jadi buat apa kamu harus takut ini dan itu?". Firman memegangi kedua pipiku dan dengan tegas meyakinkanku.
"Tapi...."...
"Ssssssssttttt...... berhentilah menangis ratu ku". Firman menempelkan telunjuknya dibibirku dan memaksa ku untuk akhirnya diam. Sesaat kami berpelukan, hati ku terasa tenang tiap mnyandarkan kepala ku di dadanya, dia maha sempurna dan aku takut untuk kehilangan kesempurnaan itu. 
Kami bersama - sama mengelola Sanggar "Pipit Murni", yang beranggotakan orang - orang yang berbakat di bidang seni berlagu. Ada sekitar 35 orang yang resmi menjadi bagian sanggar ini., mereka semua bebas berekspresi disini, buat band, paduan suara, vocal group, atau soloist, semuanya bisa, tapi spesifik pada bidang tarik suara dan seni musik.

jika nanti ku sanding dirimu...
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan bila nanti engkau disampingku
jangan pernah letih
tuk mencintaiku,..... 

Akhirnya ku menemukanmu....
Aku sangat bahagia tiap kali Firman menyanyikan lagu itu untukku. cinta kami semakin kuat seiring berjalannya waktu. Banyak rencana yang ingin kami wujudkan, menikah di eropa, punya anak kembar (padahal nggak ada keturunan kembar), dan bertekad untuk tetap saling mencintai sampai kakek nenek.
Hari itu kami pulang sudah larut malam, sekitar pukul 01.00. Anak - anak sanggar akan mengikuti festival remaja, hal itu membuat kami harus menunggu mereka selesai latihan. Perasaanku sedikit aneh saat itu, mungkin itu adalah sign untuk ku.
"Kamu pake helm nya sayang!", seru Firman sambil menyerahkan helm standard nya padaku. Aku ragu menerimanya.
"Terus kamu nggak pake helm?", tanya ku heran.
"Nggak usah, kamu aja, tadi aku nggak bilang... helm kamu di bawa Agus", jelasnya. Aku tetap ragu.
"Nggak ah yang, kamu kan yang di depan, kamu aja yang pake", tolakku, ada yang mengganjal dalam hatiku.
"Udah pake aja.... ayo dong", paksanya, aku menerimanya dengan masih ragu - ragu.
"Ayo di pake sayang, kok malah bengong....", lanjutnya. Aku memasang helm itu di kepalaku.
Firman menstater motor Yamaha Vixion warna merah hati miliknya, agak susah.
"Kenapa yang?" tanyaku heran.
"Nggak tau, mungkin minta bongkar mesin nih", jawabnya sambil terus mencoba menstater motor.
"Bukannya kemarin udah dbawa kebengkel?".
"Belum sempet, besok aja deh.....eh akhirnya yang, ayo naik". ajaknya ketika motor sudah berhasil distater.
Dijalan, aku merasakan sesuatu yang berbeda, aku mempererat pegangan ku diperutnya, seperti seseorang yang tidak ingin ditinggal pergi.Tangan kirinya pun menggenggam tanganku, dingin rasanya.
"Yang...awas.....!", teriakku ketika hampir saja motor yang kami naiki limbung karena terperosok lubang.
"Kamu ngantuk ya?", lanjut ku
"Nggak yang, rem nya agak dalem....", jawab Firman. Sesaat kami diam.
Seperti tidak sadar,dari arah berlawanan, sebuah bus melaju dan menyambar kami, Firman tidak bisa mengendalikan kemudi, motor yang kami tumpangi masuk kejalur kanan dan kejadian itu terasa sangat cepat bahkan aku tidak sempat berteriak, tapi masih sempat ku lihat tubuh Firman terseret bus dan terlempar jauh, aku tak sadarkan diri. Helm yang ku pakai pun remuk berhamburan.
Aku terbangun dan ku sadari aku di rumah sakit lagi. ada wajah mama, papa, dan Revan, laki - laki yang aku tau selalu mencintaiku sama seperti Firman, tapi aku tidak.Selama aku sakit pasca kecelakaan, dia tidak berhenti mensupport ku, tapi juga aku tak bergeming. Kepalaku sangat terasa sakit, wajahku pun serasa kaku seperti sehabis ditaburi gelondongan es batu.Mungkin aku masih beruntung dengan hanya mengalami pendarahan otak, tapi yang aku rasakan tidaklah seperti itu. Aku malah sangat ingin pergi bersama Firman.
"Tia,.....kamu sudah sadar nak?". Mama mengelus rambutku sambil menangis.
"Mama...", aku membuka mulutku setelah sekian lama.
"Iya, iya sayang".
"Bilang saja minta apa Tia, cepet sembuh nak....", papa turut bicara.
"Iya Tia, mama dan papa sayang sama kamu.... mama nggak mau kamu terus seperti ini nak....".Mama mencium keningku. Aku diam.
"Permisi bapak, ibu.... bapak dan ibu berdua ditunggu dokter Safi'i diruangannya, ada yang ingin dibicarakan...", seru suster ang tiba -tiba muncul.
"Oh, baik - baik suster...kami segera kesana "jawab papa....
"Ayo ma...", ajaknya
"Eh, iya... Mama tinggal dulu ya sayang....".
"Revan, om dan tante minta tolong jagain Tia ya...", pinta papa pada Revan.
"Oh, iya ya om...", jawab Revan sopan.
Mama dan papa pun keluar ruangan, Revan mendekatiku.
"Makasih ya...", seruku pelan,
"Iya Tia.... yang penting sekarang cepet sembuh ya....".
"Firman pasti tau kalau semua ini akan terjadi,makanya dia kasih helmnya ke aku....".
"Sudahlah Tia, semuanya udah terjadi. Aku pengen banget ngeliat kamu sehat, senyum lagi....ya, kamu harus kuat", nasihatnya.
"Kenapa kamu baik banget sama aku Van?".
"Udah sepantesnya kayak gitu Tia....".
"Kamu tau kalau aku sangat mencintai Firman kan?".
Revan mengangguk, dirapikannya selimutku, ia tersenyum.
"Kamu juga tau kalau aku nggak bisa hdup tanpa dia?".
“Apapun yang terjadi sama kamu dan Firman itu kehendak Allah...bagaimanapun kamu harus melanjutkan hidupmu.....".
"Makasih sekali lagi ya....". Aku merasa sangat lemah, kedua mataku semakin sulit untuk ku buka.
"Tia... Tia....".
Aku masih mendengar Revan memanggil - manggil dan mengguncang - guncag kan tubuh ku. Tetapi pandangan ku semakin kabur dan aku semakin mati rasa. Aku seperti timbul tenggelam dalam tubuh ini. Sesaat masih kulihat mama dan papa datang dan menangisi aku. Ada banyak orang, tetapi sedikit demi sedikit orang - orang itu menghilang dan aku seperti melayang - layang ditempat yang terang benderang, putih, seperti di surga. Dan ku lihat bayangan yang menghampiri ku, dekat dan semakin dekat hingga terlihat jelas siapa dia. Firman, dia tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku, dia menjemput ku. Aku merasa sangat bahagia, dan kini aku tidak akan pernah melepaskannya lagi. Kami adalah keabadian, dan ini adalah surga yang sesungguhnya. 


Jumat, 11 Mei 2012

Apa itu aborsi ?






Cara menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah abortus. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Dalam dunia kedokteran dikenal 3 jenis aborsi:
1.   Aborsi Spontan / Alamiah
2.   Aborsi Buatan / Sengaja
3.   Aborsi Terapeutik / Medis
Aborsi spontan / alamiah berlangsung tanpa tindakan apapun.  Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma, sedangkan 
Aborsi buatan / sengaja
adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak). Misalnya dengan bantuan obat aborsi.
Aborsi terapeutik / medis
adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik.  Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.




HUKUM DAN ABORSI 

Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis”
Yang menerima hukuman adalah:
1.   Ibu yang melakukan aborsi
2.   Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
3.   Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi
Beberapa pasal yang terkait adalah:
Pasal 229

1.   Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya
     supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena
     pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling
     lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2.   Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
     perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib,
     bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3.   Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian maka
     dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 341

Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam, karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 342

Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 343

Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Pasal 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347
1.  Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
    wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas
    tahun.
2.  Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara
    paling lama lima belas tahun.
Pasal 348
1.  Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
    wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
    tahun enam bulan.
2.  Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana
    penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349

Jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.